ansorbangkalan.or.id – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, KH Muhammad Makki Nasir, menegaskan pentingnya peran santri dalam menjaga warisan keilmuan pesantren sekaligus menyesuaikannya dengan tantangan zaman modern.
Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Kick Off Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar PCNU Bangkalan di Kampus Institut Syaikhona Muhammad Kholil (Insya) Bangkalan, Sabtu (18/10/2025).
Menurut Kiai Makki, penetapan Hari Santri Nasional pada tahun 2015 merupakan langkah maju pemerintah dalam mengakui kontribusi besar pesantren terhadap bangsa Indonesia.
“Penetapan Hari Santri Nasional merupakan bentuk pengakuan negara atas peran penting pesantren dan santri dalam perjalanan bangsa,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Falahun Nasiri itu mengingatkan bahwa sejarah mencatat besarnya peran santri dan para kiai dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, ia menilai santri masa kini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan tersebut.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana santri mampu melestarikan serta melanjutkan perjuangan dan keteladanan para kiai terdahulu,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Kiai Makki menjelaskan bahwa metodologi pendidikan pesantren terbukti mampu menjawab berbagai perubahan zaman. Salah satu contohnya, katanya, tampak dari cara masyarakat pesantren menghadapi isu Islamophobia yang sempat merebak di dunia.
“Ketika Islam dicitrakan identik dengan kekerasan dan radikalisme seperti dalam fenomena Arab Spring, para kiai pesantren justru menjawabnya dengan menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil alamin,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa konsep Islam Nusantara menjadi wujud nyata keberhasilan masyarakat pesantren dalam meredam arus Islamophobia global.
“Ini membuktikan bahwa metodologi masyarakat pesantren mampu menjaga peradaban dunia,” tegas Ketua MUI Bangkalan itu.
Kiai Makki juga menegaskan bahwa tidak ada istilah mantan santri. Menurutnya, santri harus terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“Tantangan kita adalah bagaimana mentransformasikan ajaran Islam rahmatan lil alamin agar bisa diterima generasi Z yang gemar visual dan berbasis data,” katanya.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh santri dan badan otonom (Banom) di lingkungan NU untuk terus bersinergi serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Mari maksimalkan momentum Hari Santri ini untuk menjawab tantangan zaman dan mengawal peradaban yang mulia di masa depan melalui program-program yang tepat dan terarah,” pungkasnya.
