ansorbangkalan.or.id – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kwanyar Bangkalan bersama Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) menggelar Pelatihan Operator Madrasah terkait penguasaan Education Management Information System (EMIS) serta pengelolaan laporan keuangan. Kegiatan ini dipusatkan di Pondok Pesantren Miftahut Tolibin pada Jumat (14/11/2025).
Ketua GP Ansor Kwanyar, H Fatchulloh Zainuri menyampaikan bahwa peningkatan kualitas tata kelola administrasi pendidikan dan keuangan membutuhkan sumber daya manusia yang memahami teknologi informasi serta regulasi pelaporan yang berlaku.
“Sistem pendataan Education Management Information System (EMIS) menjadi instrumen penting dalam pemetaan mutu pendidikan madrasah, sekaligus dasar pengambilan kebijakan oleh pemerintah dan lembaga terkait,” ujarnya kepada media GP Ansor Bangkalan, Ahad (16/11/2025).
Ia menambahkan pentingnya pengelolaan laporan keuangan yang tertib, transparan, dan akuntabel.
“Laporan keuangan yang baik akan menjadi bukti keseriusan lembaga dalam mengelola dana pendidikan dan kepercayaan masyarakat, serta menjadi syarat penting dalam berbagai kerja sama, bantuan, dan program peningkatan mutu,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua FKDT Kwanyar, Hoirus Sofyan menjelaskan bahwa pihaknya akan terus bersinergi dengan lembaga pendidikan diniyah, madrasah, dan pondok pesantren di Kecamatan Kwanyar.
“FKDT akan terus hadir mendampingi lembaga yang masih belum bisa mandiri. Tujuannya supaya madrasah di Kwanyar bisa lebih berkembang di zaman serba digital,” jelasnya.
Ia berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan operator dalam mengoperasikan EMIS, memperbarui data, serta menjaga keakuratan informasi.
“Selain itu, juga terbentuk budaya tertib administrasi di lingkungan madrasah dan lembaga pendidikan Islam, terutama terkait pendataan lembaga, pendidik, dan peserta didik,” ungkapnya.
Hoirus menambahkan pentingnya peningkatan pemahaman operator dalam pengelolaan keuangan. Dengan begitu, laporan keuangan lembaga dapat disusun secara sederhana, jelas, transparan, dan mudah dipertanggungjawabkan.
“Hal ini juga menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan mitra lembaga terhadap tata kelola madrasah dan pesantren yang semakin profesional, serta membangun jaringan komunikasi antaroperator untuk saling bertukar informasi, menyelesaikan kendala, dan berbagi praktik baik (best practice),” pungkasnya.
